download pentingnya puasa berpuasa

Her vil Jacob Grumsen svare på spørgsmål om stort og småt inden for hockeyverdenen og specielt dommerfaget.
Post Reply
ubhe96
Posts: 8
Joined: Sat Jul 27, 2019 3:43:49

download pentingnya puasa berpuasa

Post by ubhe96 » Sun Aug 18, 2019 4:35:42

Alhamdulillah, Allah swt. udah mempertemukan kami lagi dengan Ramadhan tahun ini, bulan berkah yang penuh rahmat dan ampunan.

Selama hidupnya, Rasulullah saw. hanya berpuasa Ramadhan sebanyak 9 kali. Bisa jadi, puasa Ramadhan kami lebih banyak dari puasa Rasulullah. Nah, hingga sejauh ini, pernahkah kami bertanya: buat apa sih kami berpuasa? Mumpung kami masih berada terhadap hari pertama puasa, tidak ada salahnya kami bertanya layaknya itu.

Banyak alasan mengapa kami kudu berpuasa. Beberapa di pada alasan itu adalah sebagai berikut.

Pertama, sebagai bentuk self-assesment (penilaian sendiri) apakah kami terhitung orang beriman atau tidak. Perhatikan, dalam surat al-Baqarah ayat 183, perintah puasa dimulai dengan lafaz iman, yakni Ya ayyuhalladzina amanu – wahai orang beriman. Hal ini untuk memunculkan rasa keimanan yang berada di dalam hati kaum muslim. Jika rasa iman bersarang dalam hati kita, maka seruan Allah itu akan terasa manis. Jika sebaliknya, maka puasa terasa berat.

Adalah para sobat Rasulullah yang kecuali dibacakan kepada mereka ayat yang dimulai dengan lafaz Ya ayyuhalladzina amanu, maka mereka akan pasang kuping. Mengapa? Karena sesudah seruan itu, tentu ada suatu hal perihal mutlak yang kudu diperhatikan.

Nah, ayat puasa terhitung layaknya itu. Jadi, tidak kudu heran dengan orang-orang yang tanpa malu makan/minum seenaknya di depan lazim terhadap bulan Ramadhan. Kalaupun ada kaum muslim yang tidak berpuasa dikarenakan alasan yang dibenarkan (seperti sakit, haid, udah tua) maka mereka hendaknya tidak melakukannya secara demonstratif. Hormatilah bulan Ramadhan, yang merupakan tidak benar satu syi‘ar Allah. Orang yang menghargai syi‘ar Allah, isyarat hatinya masih menyimpan benih ketakwaan (lihat al-Quran surat al-Hajj ayat 32)

Beruntunglah orang yang menyambut seruan Allah itu dengan sukacita. Itu isyarat keimanan masih bersarang di dalam hati.

Kedua, puasa Ramadhan menanamkan harga diri kami bahwa kita, kaum Muslim, adalah umat yang paling berkelanjutan merawat kontinuitas ajaran-ajaran agama langit. Perhatikan, firman Allah, ‘Telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana udah diwajibkan pula kepada generasi terdahulu’ (al-Baqarah ayat 183).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa ibadah puasa bukanlah ibadah baru, yang hanya dikhususkan tata cara puasa untuk umat muslim. Umat-umat Nabi terdahulu terhitung dibebani perintah berpuasa. Begitu pula, umat Yahudi dan umat Nashrani, terhitung dibebani perintah berpuasa. Namun, apakah dua umat ini berkelanjutan menggerakkan perintah puasa?

Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwa ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah udah mewajibkan puasa Ramadhan kepada kaum Yahudi dan Nashrani. Namun, kaum Yahudi meninggalkan puasa di bulan ini. Mereka hanya berpuasa satu hari dalam satu tahun, yakni terhadap hari Firaun tenggelam dan Bani Israil selamat. Adapun kaum Nashrani terhitung jalankan puasa Ramadhan. Namun, terhadap pas itu udaranya sangat panas, sehingga mereka mengalihkan puasa Ramadhan itu di bulan lain, yakni di bulan Rabi‘ (musim semi). Lalu para rahib mereka mengeluarkan fatwa, ‘Kita kudu beri tambahan puasa 20 hari lagi, sebagai tebusan terhadap perbuatan kami ini’. Maka, mereka berpuasa sepanjang 50 hari. Inilah yang dimaksudkan Allah swt, ‘Mereka menjadikan cendekiawan dan para rahib mereka sebagai tuhan tandingan bagi Allah’ (surat at-Tawbah ayat 31)

Bagaimana dengan kami kaum Muslim? Kita hanya berpuasa satu bulan. Tidak lebih. Maksimal 30 hari, dan minimal 29 hari. Umat Muslim tidak dulu mengganti puasa Ramadhan (apakah sejalan dengan musim panas, semi atau penghujan) terhadap bulan-bulan lainnya. Itu berarti kami adalah umat yang berkelanjutan menggerakkan perintah puasa ramadhan.

Ketiga, kami kudu berpuasa untuk mengingatkan akan nikmat terbesar dalam hidup kita, yakni nikmat turunnya al-Quran, yang membawa prinsip-prinsip kebahagiaan hidup. Atas basic itulah, Allah berfirman, ‘Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran, yang berguna sebagai petunjuk-hidup (hudan) bagi manusia dan penjelasan (bayyinat) terhadap petunjuk-hidup itu, dan terhitung sebagai pembeda (furqan) pada yang benar dan yang salah’ (al-Baqarah ayat 185)

Sesungguhnya, tidak ada buku yang begitu mencerahkan dan praktis untuk kami amalkan, kecuali al-Quran. Begitu hebatnya al-Quran, maka tidak heran tetap saja ada orang-orang yang mengakibatkan al-Quran palsu. Namun, keaslian al-Quran akan terjaga hingga hari Kiamat, dikarenakan itu adalah janji Allah swt. Meskipun demikian, kaum Muslim tetap kudu mempelajari al-Quran dengan baik. Kata Rasulullah saw., ‘Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suat kaum dengan al-Quran dan menjatuhkan derajat kaum yang lain terhitung dengan al-Quran’.

Keempat, kami kudu berpuasa sehingga kami tidak memperturutkan ambisi perut dan kemaluan kita. Sesungguhnya, semua kerusakan di dunia beberapa besar dikarenakan dua ambisi itu.

Imam al-Ghazali rahimahullah berkata, ‘Ketahuilah, sebenarnya pangkal segala kerusakan bersumber dari syahwat perut. Dari syahwat perut, terlihat syahwat seks. Karena syahwat perut, Adam terlihat dari surga. Karena syahwat perut, orang berlomba-lomba mengejar dunia secara berlebihan’.

Apakah ada hubungan pada prilaku konsumtif dengan syahwat perut? Apakah ada hubungan pada korupsi dengan syahwat perut? Apakah ada hubungan pada prilaku free sex dengan syahwat kemaluan?

Jawabannya kami udah tahu.

Nabi Yusuf alayhissalam adalah public figure yang suka berpuasa, padahal ia berada di puncak kekuasaan. Karena kebiasaannya ini, banyak orang bertanya, ‘Mengapa Anda masih suka berpuasa, padahal Anda adalah orang yang menguasai perbendaharaan negara?’ Yusuf menjawab, ‘Jika aku kenyang, aku takut jadi lupa dengan orang-orang lapar’.

Subhanallah… Andai saja para pemimpin kita, terasa dari level lingkungan hingga level kenegaraan, mau menyontoh prilaku Yusuf alayhissalam, maka betapa harmonisnya hidup manusia.

Nah, puasa mengajarkan kami untuk menyeimbangkan dua syahwat itu: syahwat perut dan syahwat seks.

Kelima, puasa mengajak kami untuk beri tambahan pas barang sejenak untuk bersihkan kotoran-kotoran ruhani kita. Siapakah manusia yang tidak dulu salah?

Ramadhan adalah training massal yang mencuci kotoran-kotoran yang menempel di dinding hati kita. Ramadhan berikan peluang kepada kami untuk mendekatkan diri kepada Allah, curhat kepada-Nya, dan memohon rahmat dan ampunan dari-Nya. Ramadhan adalah ghayts al-qulub – rintik hujan yang membasahi keringnya hati.

Mudah-mudahan Ramadhan kali ini jadi tidak benar satu Ramadhan paling baik kita. Amin.

Post Reply